Rabu, 21 Maret 2012

Cara Mengatasi Kecemasan Berbicara



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Di zaman yang serba canggih dengan perkembangan yang cepat serta banyak metode - metode dalam dunia pendidikan maupun dalam dunia bisnis merupakan sudah menjadi sebuah tuntutan bagi manusia supaya menjadi manusia yang cakap dalam menjalani kehidupan.
Dengan sebuah kecakapan seseorang akan mampu menghadapi situasi apapun baik yang berhubungan dengan pendidikan maupun kemasyarakatan, tidak hanya berprioritas pada kepandaian dalam dunia pendidikan. Bahkan dengan kemajuan teknologi dan informasi manusia dapat berkomunikasi di belahan dunia manapun, sehingga komunikasi menjadi penting. Rahmat mengemukakan, penelitian membuktikan bahwa 75% waktu bangun kita berada dalam kegiatan komunikasi
Sehubungan dengan hal tersebut banyak lembaga-lembaga pendidikan baik yang formal maupun non formal mengembangkan berbagai kreatifitas - kreatifitas bagi anak didik, mengembangkan sumber daya manusia baik kognisi, afeksi dan psikomotor melalui macam-macam kegiatan khususnya berkaitan dengan komunikasi .
Di samping itu juga dalam kaitannya,. W.S. Wingkel memaparkan dalam bukunya Psikologi Pengajaran bahwa bentuk belajar teoritis bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta (pengetahuan) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat difahami dan digunakan untuk memecahkan problem, seperti  terjadi dalam bidang-bidang ilmiah.









BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Retorika
            Retorika adalah teknik pemakaian bahasa seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik. Dua aspek penting dalam retorika adalah
v  pengetahuan mengenai bahasa
v  penggunaan bahasa dengan baik.
Pada abad XX kembali mengambil tempat lagi sebagai cara untuk menyajikan berbagai macam bidang pengetahuan dalam bahasa yang baik dan efektif. Retorika menitikberatkan pada seni oratori atau teknik berpidato.
Tujuan retorika untuk menerangkan kaidah-kaidah yang menjadi landasan dari tulisan yang bersifat prosa atau wacana lisan yang berbentuk pidato atau ceramah,untuk mempengaruhi sikap dan perasaan orang.
B. Kepribadian Pembicara
Untuk menjadi seorang pembicara, tidak perlu memiliki pendidikan tinggi. Perhatian pendengar terhadap pembicara tergantung pada keterampilan berbicara, ketepatan argumentasi dan pada daya meyakinkan yang dipancarkannya.
Untuk mencapai sukses yang besar memang tidaklah mudah. Tetapi mencapai kepribadian adalah jauh lebih sukar. Untuk mempertinggi penampilan secara menarik, diberikan beberapa anjuran dan nasihat sebagai berikut :
  • Mencari orang besar yang dapat dijadikan contoh atau model
  • Membuat satu daftar kelemahan pribadi, sebagai patokan dalam usaha untuk mengurangi atau menghilangkaanya
  • Mencari dan mengambil pengetahuan  baru
  • Melatih pikiran dan kesanggupan berkonsentrasi
  • Memperluas perbendaharaan kata
  • Membaca buku-buku yang baik
  • Lebih baik belajar mendengar
  • Memperhatikan manusia secara teliti
  • Mempelajari bahasa asing
Untuk Membina kepribadian, di bawah ini disertakan beberapa patokan :
  • Publik tidak akan memberikan kepercayaan kepada seorang pembicara secara Cuma-Cuma. Dia sendiri harus memperolehnya dengan usaha yang keras
  • Rasa pasti seorang pembicara menentukan juga rasa pasti waktu penampilannya
  • Orang tidak dapat menghilangkan kelemahan kelemahan manusiawinya, kalau orang itu tidak mengenal kelemahan itu atau kalau orang lain tidak memberitahukannya.
  • Adalah lebih gampang untuk mengenal sepuluh kesalahan dan kelemahan orang lain, daripada mengenal kesalahan dan kelemahan pada diri sendiri.
  • Tampillah secara meyakinkan, Bukalah Mulutmu, Bicaralah dan Berhentilah dengan Segera.
  • Siapa yang tergelincir karena lidah dapat menghancurkan dirinya sendiri.
Ada tiga hal yang membuat kita takut dalam berpidato di depan orang banyak (publik) : ketakutan, sempitnya wawasan dan sedikit pengalaman. Tiga hal tersebut bukanlah masalah hanya kendala yang dapat di antisipasi oleh diri kita sendiri.
Dale carnigie memberikan sebuah rumusan agar kita dapat mengantisipasi hal tersebut:
1. Mulailah dengan motivasi yang kuat (Ikhlas)
2. Ketahuilah sepenuhnya apa yang kita bicarakan (Pengetahuan)
3. Bicaralah dengan penuh keyakinan (Semangat)
4. Berlatihlah…berlatihlah…berlatihlah…(Pembiasaan-Dibiasakan)

            DR. Akrim Ridha secara ringkas mengatakan selain dari tiga hal di atas yang menyebabkan kita takut berbicara di depan publik adalah:
1. Ketakutan yang menular dari orang lain
2. Perhatian terhadap sebagian hadirin audiens
3. Berlebih-lebihan dalam meng-interprestasikan sikap dan tindakan salah seorang audiens
4. Pengalaman yang gagal.
Untuk dapat memberikan sesuatu maka sebelumnya kita harus memiliki sesuatu.Sebelum berorasi atau berpidato, kita harus menguasai apa yang hendak kita sampaikan. Dan untuk itu di perlukan langkah-langkah awal :
Ø  1. Apa Yang di Telaah?
Pengetahuan tentang berbagai sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan yang di perlukan, adalah satu pintu gerbang yang luas untuk meningkatkan wawasan kita.

Ø  2. Apa Yang Di Seleksi?
Tanggung jawab seorang pembicara di depan publik sangat besar, karenanya ia harus memainkan peran tersebut. Dalam membuat materi pidato atau pemikiran yang hendak di sampaikan seorang pembicara harus mengambil sumber pemikirannya

Ø  3. Apa Yang Di Susun?
Bagaimana kita menyusun sebuah teks pidato atau bahan pemikiran?
· Buatlah sebuah “pikiran utama” (tema yang hendak dibicarakan)
· Kemudian buatlah “pikiran-pikiran penjelas” yang menjelaskan pikiran utama
· Untuk memperkaya wawasan, koleksi berbagai buku yang sesuai dengan tema yang     hendak disampaikan (sumber pemikiran)
· Serta banyak membaca dan mencari informasi dari berbagai media untuk memperkaya referensi

Ø  4. Apa Yang Di Hafal?
Berusalah menghafal sebagian dari pengetahuan, agar memudahkan kita dalam menyiapkan dan menghafal pidato serta opini yang hendak kita lontarkan.
Dalam memberikan sebuah ceramah, pidato ataupun menyatakan opini tidak cukup hanya hal-hal yang telah di jelaskan diatas saja . Ada satu hal lagi yang di perlukan paling tidak yaitu sebuah komunkasi efektif.

Ø  5. Komunikasi Yang Efektif
Komunikasi yang efektif adalah salah faktor keberhasilan dalam berorasi di depan publik. Sebagian besar masalah yang timbul dalam berorasi atau berpidato adalah masalah komunikasi. Jika memiliki kemampuan berkomunikasi yang efektif akan mampu meminimalisir konflik yang terjadi.

C. Prinsip Komunikasi
Untuk dapat berkomunikasi dengan baik, maka di perlukan prinsip komunikasi yang penting yaitu:
1. Seluruh perilaku mengkomunikasikan sesuatu dengan sengaja atau tidak sengaja (tangan, mulut, wajah,baju,dll)
2. Komunikasi non verbal sangat berpengaruh terhadap persepsi
3. Konteks berpengaruh terhadap komunikasi
4. Arti terdapat pada orang bukan pada kata-kata. Kita masih melihat siapa yang berbicara dan apa yang di katakannya, dan kita umumnya tidak melihat kata-kata dan cara penyampaiannya.
5. Komunikasi memerlukan keternukaan dari pengirim dan penerima
D. Prinsip – Prinsip Penyampaian Pidato
Ada dua pandangan tentang penyampaian pidato :
-          Pidato sebagai sejenis percakapan yang diperluas (anenlarged conversation) asalkan kita menguasai bahan yang dipergunakan, pidato akan berjalan dengan sendirinya.
-          Pidato merupakan peristiwa yang khas, yang memerlukan bakat dan keterampilan yang khas juga, tidak semua orang dapat menyampaikan pidato.
Kedua pendapat ini setengah benar, Memang benar Pidato merupakan peristiwa yang khas, tetapi ke khasannya sama sekali tidak berarti bahwa hanya orang tertentu saja yang dapat menyampaikan pidato. Setiap orang dapat menyampaikan pidato dengan baik bila mereka mengetaui dan mempraktekan tiga prinsip penyampaian pidato
1.      Peliara Kontak visual dan kontak mental dengan khalayak ( Kontak )
2.      Gunakan Lambang – Lambang Auditif ( Olah Vokal )
3.      Berbicara dengan seluruh kepribadian anda ( Oleh Visual ).

v   Kontak
Pidato adalah komunikasi tatap muka, yang bersifat dua arah. Walau pembicara lebih banyak mendominasi pembicaraan, ia harus “mendengarkan” pesan – pesan yang disampaikan para pendengarnya ( baik berupa kata – kata atau bukan kata – kata ). Teknik pertama untuk menjalin hubungan adalah melihat langsung kepada khalayak, “Hadirin tidak akan memperhatikan pembicara yang tidak memperhatikan mereka” inilah kontak Visual.
Disamping kontak Visual, anda juga melukukan kontak mental. Perhatikan “Feedback” umpan balik dari mereka, dan sesuikan pembicaraan anda dengannya. Anda melihat mereka mengantuk, masukan bahan – bahan yang menarik perhatian.
v  Karakteristik Olah Vokal
Mekanisma olah vokal mengubah bunyi menjadi kata, ungkapan atau kalimat. Tapi cara kita mengeluarkan suara memberikan makna tambahan atau bahkan membelokan mana kata, ungkapan atau kalimat. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam olah vokal :
·      Kejelasan (Intelligibility
·      Fisiologis
·      Artikulasi
·      Kekerasan bunyi
·       Psikologis
·      Pelapalan
·       Keragaman (Variety)
·      Ritma ( Rhythm), keteraturan dalam meletakan tekanan pada bunyi, suku kata, tata kalimat atau paragraph. Tekanan pada satuan ungkapan yang kecil disebut stress atau aksen. Tekanan panjang (seperti paragraph ) disebut tempo.

v  Olah Visual
Pribahasa Arab mengatakan “Lisanul hal aqwa min lisanil maqal” (Lisan keadaan lebih kuat dari lisan ucapan). Lisan keadaan diabagi dua hal :
1.      Gerakan Fisik (Physical Action) atau Tubuh (Bodily Action)
Gerak Fisikal digunakan paling tidak untuk tiga hal :
-       Menyampaikan Makna
-       Menarik Perhatian
-       Menumbuhkan kepercayaan diri dan semangat.
2.      Alat – Alat Visual

Karakteristik Isyarat yang baik :
1.      Isyarat yang baik bersifat spontan dan alamiah.
2.      Isyarat yang baik mengkoordinasikan seluruh gerak tubuh
3.      Isyarat yang baik dilakukan pada waktu yang tepat.
4.      Isyarat yang baik dilakukan penuh, tidak sepotong – sepotong.
5.      Kekuatan Isyarat itu harus sesuai dengan gagasan yang dikemukakan.
6.      Isyarat yang baik harus sesuai dengan besar dan jenis khalayak.
7.      Isyarat yang baik bervariasi

E. Kecemasan Dalam Berpidato             
Orang takut pidato terutama karena dari penonton dan tidak ingin terlihat seperti kegagalan di depan mereka. Langkah pertama untuk meminimalkan kecemasan pidato adalah untuk mengetahui audiens Anda dan mempersiapkan pidato sesuai dengan apa yang mereka akan mengerti yang terbaik
Pidato harus dalam kata-kata sederhana. Cobalah untuk menghafal konsep dan aliran topik, bukan kata-kata menghafal. Konsep-konsep sulit dapat disederhanakan dan diletakkan di depan penonton dengan bantuan alat bantu visual, seperti PowerPoint atau lebih proyektor kepala.
Teknik yang paling penting untuk mencegah kecemasan bicara untuk berlatih, berlatih dan berlatih lagi. Mengetahui pidato anda dengan baik, akan memberi Anda kepercayaan diri yang diperlukan untuk melatih pidato. Praktek harus dilakukan sendiri, di depan cermin dan kemudian penonton palsu. Seringkali orang, video tape bicara mereka untuk meninjau nanti dan memperbaiki apa-apa kurang.
Sebelum hari sebenarnya dari pidato tersebut, latihan untuk menyegarkan diri, makan yang tepat dan berpakaian dengan pakaian terbaik Anda untuk meningkatkan rasa percaya diri Anda. Hindari memakai sepatu bertumit tinggi atau pakaian ketat sebagai sesuatu yang tidak nyaman yang bisa mengalihkan perhatian Anda dari pidato Anda.
Cara terbaik untuk memulai pidato secara perlahan dan jelas. Cobalah untuk tetap setenang mungkin, bernapas dalam-dalam di antara topik. Beri diri Anda istirahat di antara saat Anda pergi ke proyektor atau layar.
Gejala-gejala kecemasan berbicara mungkin mulai tiba-tiba. Jika Anda merasa timbulnya tersipu, berkeringat atau Anda merasa balap hati Anda, jeda sejenak, mengingat kembali pikiran dan terus seolah-olah tidak ada yang terjadi. Berlatih tindakan ini akan membawa Anda ke tahap ketika Anda akan berada dalam kontrol total pidato Anda.
Meskipun hampir setiap orang memiliki kecemasan pidato mengalami suatu saat dalam hidup mereka, ada beberapa orang yang telah diatasi dengan kecemasan berbicara sedemikian rupa mereka benar-benar menghindari situasi dimana mereka mungkin harus memberikan pidato. Seringkali, ini fobia berbicara di depan umum mengambil alih kepribadian mereka dan membuat mereka kehilangan peluang besar dalam hidup.
Gejala ini dinamakan Stres Kerja ( Performance Stress) atau bisa disebut demam panggung (Stage  fright). Gejala yang dirasakan biasanya :
-    Detak jantung yang cepat                                        
-    Telapak tangan / punggung berkeringat
-    Napas terengah – engah
-    Mulut kering dan sukar menelan
-    Tegang
-          Suara bergetar
-          Bicara tidak jelas
-          Tidak bisa berkonsentrasi
-          Lupa / Sukar mengingat.
Gejala timbul karena reaksi alamiah kepada ancaman, begitu makhluk menghadapi ancaman, ia bersiaga untuk melawan (fight) atau melarikan diri (flight).
Ø  Sebab – sebab Kecemasan Komunikasi
Pertama, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia menghadapi sejumlah ketidak pastian. Latihan dan pengalaman sangat mempengaruhi sebab ini.
Kedua, Orang yang tahu ia akan dinilai, karna berhadapan dengan penilai membuatnya gugup.
Ketiga, Kecemasan Komunikasi dapat menimpa bukan pemula, tetapi orang – orang yang dikenal sebagai pembicara yang baik, biasanya ini terjadi karena pembicara berhadapan dengan situasi yang asing dan ia tidak siap.
Ø  Metode Mengendalikan Kecemasan Komunikasi
Sebab Kecemasan Komunikasi dapat dilacak pada tiga hal :
-          Kurangnya pengetahuan tentang retorika.
-          Tidak ada pengalaman dalam berpidato
-          Sedikit atau tidak ada persiapan
v  Ada dua metode mengendalikan Kecemasan Komunikasi ;
1.      Metode Jangka Panjang, yaitu ketika kita secara berangsur – angsur mengembangkan keterampilan  mengendalikan kecemasan komunikasi.
2.      Metode Jangka Pendek, yaitu ketika kita harus segera mengendalikan kecemasan berbicara pada waktu atau sebelum penyampaian pidato dengan katalain yang pertama adalah proses belajar yang panjang dan yang kedua yakni pintu darurat ketika pesawat dalam keadaan berbahaya.
v  Berikut Tips menggunakan metode jangka pendek :
-          Hadapi Gejalanya, gunakan teknik – teknik relaksasi untuk mengendurkan otot anda.
-          Memancing respons dari hadirin pada permulaan berbicara.
-          Mengetahui Keterampilan berbicara dan persiapan yang baik.
v  Kompenen – Komponen Kredibilitas
Kredibilitas tidak melekat pada diri sipembicara, kredibilitas terletak pada persepsi khalayak tentang pembicara. Karna kredibilitas itu sama dengan persepsi khalayak tentang komunikator, kredibilitas dapat dibentuk dan dibangun.


Kredibilitas memiliki tiga bagian :
-          Kredibilitas Awal (Initial Credibility)
-          Kredibilitas yang timbul selama sipembicara berpidato (Derived Credibility)
-          Kredibilitas Akhir (Terminal Credibility)
Kredibilitas hasil penilaian orang lain tentang diri kita, setelah mereka menerima informasi tentang kita langsung maupun tidak langsung. Glenn R. Capp dan G. Richard Capp, Jr. dalam Besic Oral Communication, menjelaskan 5 cara bagaimana anda dinilai :
1.      Anda dinilai antara lain dari reputasi yang mendahului anda
2.      Perkenalan tentang anda
3.      Apa yang anda ucapkan
4.      Cara anda berkomunikasi
5.      Pernyataan – pernyataan yang menciptakan ethos (Kesan yang baik mengenai anda)









BAB III
PENUTUP
a.    Kesimpulan
Pidato harus dalam kata-kata sederhana. Cobalah untuk menghafal konsep dan aliran topik, bukan kata-kata menghafal. Konsep-konsep sulit dapat disederhanakan dan diletakkan di depan penonton dengan bantuan alat bantu visual, seperti PowerPoint atau lebih proyektor kepala.
Teknik yang paling penting untuk mencegah kecemasan bicara untuk berlatih, berlatih dan berlatih lagi. Mengetahui pidato anda dengan baik, akan memberi Anda kepercayaan diri yang diperlukan untuk melatih pidato. Praktek harus dilakukan sendiri, di depan cermin dan kemudian penonton palsu.
Sebelum hari sebenarnya dari pidato tersebut, latihan untuk menyegarkan diri, makan yang tepat dan berpakaian dengan pakaian terbaik Anda untuk meningkatkan rasa percaya diri Anda. Hindari memakai sepatu bertumit tinggi atau pakaian ketat sebagai sesuatu yang tidak nyaman yang bisa mengalihkan perhatian Anda dari pidato Anda. Cara terbaik untuk memulai pidato secara perlahan dan jelas. Cobalah untuk tetap setenang mungkin, bernapas dalam-dalam di antara topik.
b.   Saran
Mulai sekarang, pergunakanlah segala kesempatan, baik dalam percakapan pribadi maupundalam diskusi kelompok untuk berbicara atau mengemukakan pendapat.Untuk mengatasi rasa takut dan cemas sebelum berbicara, berusahalah dalam 5 menit pertama untuk berbicara. Dengan cara ini anda akan melihat bahwa rasa takut dan cemaskan rasa berkurang
            Satu, ketentuan dasarilah yang penting, persiapan harus teliti mungkin dan sebaik mungkin tidak boleh tergesa-gesa dan dikejar oleh waktu, lainnya adalah “janganlah anda terlalu memikirkan penampilan anda tetapi pikirkan apa yang mau anda sampaikan kepada pendengar anda.”


DAFTAR PUSTAKA
Hendrikus, Dori Wuwur . 1991.Retorika, Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi. Yogyakarta: Kanisius
http://id.shvoong.com/law-and-politics/political-philosophy/2096138-pengertian-retorika/.Kasijanto Sastrodinomo. 04 Januari, 2011.19:07
http://www.tempo.co/read/opiniKT/2012/03/14/1787/Retorika-Anas-Urbaningrum. Selasa, 13 Maret 2012 | 05:36 WIB
http://nasional.inilah.com/read/detail/1839820/denny-indrayana-pandai-retorika. Ajat M Fajar. Senin, 12 Maret 2012 | 15:49 WIB

http://www.slideshare.net/sindicate005/retorika. Gilang Gaviasa. Feb 21, 2010

http://www.scribd.com/doc/39539509/kecemasan-berbicara.
http://ruangpsikologi.com/sekilas-kajian-klinis-kecemasan-berbicara-di-depan-umum.10 November 2009
http://clupst3r.wordpress.com/2011/11/11/kecemasan-berbicara/.clupst3r 10:47 am pada November 11, 2011

http://tiapoparea.wordpress.com/2010/06/20/kepribadian-pembicara/.tiapop. June 20, 2010
http://mohammadilhamsiddiq.wordpress.com/category/berbicara-di-depan-umum/.mohammadilhamsiddiq
http://www.attayaya.net/2011/04/tata-cara-pidato-yang-baik-dan-benar.html. Blogger Bertuah 2011-04-23 jam 13:17 Attayaya
http://agnessekar.wordpress.com/2008/12/08/tehnik-berpidato/.agnessekar.8 Desember 2008
http://ridwanaz.com/umum/akademik/persiapan-sebelum-berpidato/admin. June 21, 2009
 
http://metroaktual.com/read/cara-menanggulai-rasa-takut-saat-pidato.html.Aktual.com. 15 November 2011. 19:59
 
 




Analisis Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk


MAKALAH BERBICARA
TUGAS IDENTIFIKASI NOVEL
TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK
OLEH HAMKA

D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
Nama      : Sebaya Kristina Sihite
Kelas      : Reguler A
NIM        : 2112111017
Copy of LOGOUN~5
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
                                       2011     
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat serta karuniaNya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan makalah ini yang tepat pada waktunya yang berjudul  Identifikasi unsur- unsur novel yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck oleh karangan Hamka”.
Makalah ini berisikan informasi  tentang perjalanan unsur- unsur intrinsik yang ada dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, yang di sertakan dengan sinopsis yang terkandung dalam novel. Dan kiranya dapat memenuhi nilai tugas mata kuliah Berbicara  yang diberikan oleh Ibu Dra. Rosdiana Siregar sesuai yang diharapkan.
Penulis  menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Demikianlah sebagai kata pengantar, dengan iringan serta harapan semoga tulisan sederhana ini dapat diterima dan bermanfaat bagi pembaca. Atas semua ini penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, semoga segala bantuan dari semua pihak mendapat amal baik yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Medan,            Desember  2011

Penulis



DAFTAR ISI
Kata Pengantar................................................................................................   i
Daftar Isi..........................................................................................................   ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................    1
1.1 Latar Belakang......................................................................................   1
1.2 Permasalahan........................................................................................   2
1.2.1 Rumusan Masalah......................................................................   2
1.2.2 Penegasan Konsep Variabel.......................................................   2
1.2.3 Deskripsi Masalah......................................................................   2
1.3 Tujuan Pembahasan..............................................................................   2
1.4 Pengertian istilah dalam judul...............................................................   3
1.5 Sistemetika Penulisan...........................................................................   3
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................   4
2.1 Identitas Novel.....................................................................................    4
2.2 Sinopsis................................................................................................   5
2.3 Unsur- Unsur Intrinsik Novel...............................................................   6
2.3.1 Tema..........................................................................................     6
2.3.2 Alur/ Plot....................................................................................     7
2.3.3 Penokohan/ perwatakan.............................................................    9
2.3.4 Setting/ latar................................................................................    10
2.3.5 Sudut pandang............................................................................    10
2.3.6  Gaya Bahasa.............................................................................    10
2.3.7 Amanat.......................................................................................    10
2.4 Biografi Pengarang...............................................................................    11
Bab III PENUTUP.............................................................................................   12
3.1 Simpulan..............................................................................................    12
3.2 Saran....................................................................................................    12
3.3 Daftar Bacaan.......................................................................................    12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hadirnya suatu karya sastra tentunya agar dinikmati oleh para pembaca. Untuk dapat menikmati sebuah karya secara sungguh-sungguh dan baik diperlukan seperangkat pengetahuan akan karya sastra. Tanpa pengetahuan yang cukup penikmatan akan sebuah karya hanya bersifat dangkal dan sepintas karena kurangnya pemahaman yang tepat.
Dalam dunia kesusastraan penyair sering dilukiskan sebagai orang kerasukan yang bicara secara tidak sadar tentang apa saja yang dirasakan dalam tingkatan sub dan supra dan supra-rasional (Hardjana, 1981 : 61). Dalam dunia fiksi kadang ada sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal sehat, karena memang dengan istilah seorang penyair mengejewantahkan imajinasinya untuk diwujudkan dalam karya sastra.
Dalam dunia kesusastraan selalu identik dengan penjiwaan baik itu dari tingkat emosi pengarang maupun dari penikmat karya sastra. Hasil karya sastra tertentu merupakan hasil khayalan pengarang yang sedang mengalami keadaan jiwa tertentu (Hardjana, 1981 : 65). Dari sinilah dapat kita simpulkan bahwa karya sastra merupakan sebuah bentukan (out put) dari proses pemikiran (imajinatif) pengarang dalam mengapresiasi untuk menjadi sesuatu yang estetik.
Disamping itu, pengetahuan akan unsur-unsur yang membentuk karya sastra pun sangat diperlukan untuk memahami karya sastra secara menyeluruh. Tanpa pengetahuan akan unsur-unsur yang membangun karya sastra, pengetahuan kita akan dangkal dan hanya terkaan saja sifatnya, jika pengetahuan dengan cara demikian, maka maksud dan makna yang disampaikan pengarang kemungkinan tidak akan tertangkap oleh pembaca. Unsur-unsur karya sastra tersebut adalah unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang ada dalam tubuh karya sastra itu sendiri yang meliputi tema, alur, setting, penokohan, dan sudut pandang. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang berbeda diluar tubuh karya sastra yang meliputi adat istiadat, agama, politik, situasi zaman.
1.2 Permasalahan
1.2.1 Rumusan Masalah
Dari uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur pembangun dalam karya sastra ada dua, yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Pada makalah ini penyusun akan menganalisis karya sastra yang berbentuk roman dengan judul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijch” Karya Haji Abdul Karim Amrullah (Hamka).
1.2.2 Penegasan Konsep Variabel
Dalam makalah ini penulis hanya menganalisis satu variabel yaitu : tentang analisis unsur intrinsik pada roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya (Hamka).
1.2.3 Deskripsi Masalah
Agar pembahasan tidak terlalu meluas, maka penyusun membatasi analisis terhadap cerpen ”1” tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Haji Abdul Karim Amirullah (Hamka) dengan melihat unsur intrinsiknya yaitu : 1). Tema 2). Alur 3). Tokoh 4). Latar belakang cerita 5). Diksi/ Pilihan kata 6). Amanat 7). Ending
1.3 Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan pengetahuan tentang unsur intrinsik terutama pada tema, tokoh, dan sudut pandang pada Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
1.4 Pengertian istilah dalam judul
Judul dalam makalah ini adalah unsur intrinsik pada Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamka. Untuk menghindari terjadinya salah tafsir dan salah persepsi terhadap permasalahan dalam judul ini, maka penulis menjelaskan tentang istilah yang terdapat dalam judul sebagai berikut :
Unsur intrinsik adalah unsur yang ada dalam tubuh karya sastra itu sendiri yang meliputi tema, alur, penokohan, setting atau latar belakang cerita, diksi atau pilihan kata, amanat, sudut pandang dan ending cerita.
1.5  Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran dalam makalah ini, maka dalam sistematika penulisan digambarkan secara singkat mengenai isi makalah ini.
Bab I Pendahuluan, didalamnya terdiri dari latar belakang masalah, permasalahan terdiri dari atas rumusan masalah, penegasan konsep variabel, deskripsi masalah, tujuan pembahasan, pengertian istilah dalam judul dan sistematika penulisan.
Bab II Pembahasan, pada bab ini penulis akan menguraikan sebagai berikut : Unsur- unsur intrinsik novel seperti tema, alur, tokoh, setting/  latar belakang cerita, diksi atau pilihan kata, amanat dan ending/ penyelesaian dari cerita tersebut.
Bab IV Penutup, yang berisi kesimpulan, saran, dan Daftar Pustaka. Dengan bab ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang isi keseluruhan dari suatu penelitian yakni dengan kesimpulan-kesimpulan. Selain itu juga dapat memberikan suatu saran-saran bagi kita untuk menyempurnakan makalah ini




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Identitas Novel
Judul                          : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Pengarang                   : HAMKA
Penerbit                       : PT. Bulan Bintang  2002
Cetakan                       : Ke- 26
Tebal                           : 224 halaman
Ukuran                                    : 21 cm
Warna sampul             : Biru
Pelaku Utama              : Zainuddin dan Hayati
Negara                         : Indonesia
Bahasa                         : Bahasa Melayu
Genre                          : Buku roman, Cinta
Tarik pengeluaran        : 1939 ( pertama)
ISBN                           : 979-418-055-6
 
http://www.pustakasekolah.com/wp-content/uploads/2011/11/novel-tenggelamnya-kapal-van-der-wijk-208x300.jpg


2.2 Sinopsis Novel
Roman yang dikarang oleh Prof. Dr. Hamka ini diterbitkan tahun 1939. Roman ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan persoalan kekayaan yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih. Sejak berumur 9 bulan, Zainuddin telah ditinggalkan Daeng Habibah ibunya, menyusul kemudian ayahnya yang bernama Pendekar Sutan. Zainuddin tinggal bersama bujangnya, Mak Base, Kira-kira 30 tahun yang lalu, ayahnya punya perkara dengan Datuk Mantari Labih mamaknya, soal warisan. Dalam suatu pertengkaran Datuk Mantari terbunuh. Pendekar Sutan kemudian dibuang ke Cilacap selama 15 tahun. Setelah selesai masa hukumannya, ia dikirim ke Bugis untuk menumpas pemberontakan yang melawan Belanda. Di sanalah Pendekar Sutan bertemu dengan Daeng Habibah. Untuk mencari keluarga ayahnya, Zainuddin pergi ke desa Batipuh di Padang. Di Padang ia tinggal di rumah saudara ayahnya, Made Jamilah. Sebagai seorang pemuda yang datang dari Makasar, ia merasa asing di Padang. Apalagi tanggapan saudara-saudaranya demikian. Demikian pula ketika ia dapat berkenalan dengan Hajati karena meminjamkan payungnya pada gadis itu. Hubungan antara Zainuddin dan Hajati makin hari tersiar ke seluruh dusun dan Zainuddin tetap dianggap orang asing bagi keluarga Hajati maupun orang-orang di Batipuh.Untuk menjaga nama baik kedua orang muda dan keluarga mereka masing-masing, Zainuddin disuruh meninggalkan Batipuh oleh mamak Hajati. Dengan berat hati Zainuddin meninggalkan Batipuh menuju Padang Panjang. Di tengah jalan Hajati menemuinya dan mengatakan bahwa cintanya hanya untuk Zainuddin.
Zainuddin menerima kabar bahwa Hajati akan pergi ke Padang Panjang untuk melihat pacuan kuda atas undangan sahabat Hajati yang bemama Chadidjah. Zainuddin hanya dapat bertemu pandang di tempat itu karena bersama orang banyak ia terusir dari pagar tribune. Pertemuan yang sekejap itu membuat Hajati mendapat ejekan dari Chadidjah. Chadidjah
sendiri sebenamya bermaksud menjodohkan Hajati dengan Aziz, kakak Chadidjah sendiri.
Karena merasa cukup mempunyai kekayaan warisan dari orang tuanya setelah Mak Base meninggal, Zainuddin mengirim surat lamaran pada Hajati. Temyata surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz. Setelah diminta untuk memilih, Hajati memutuskan memilih Aziz sebagai calon suaminya. Zainuddin kemudian sakit selama dua bulan karena Hajati menolaknya. Atas bantuan dan nasehat Muluk, anak induk semangnya, Zainuddin dapat merubah pikirannya. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke Jakarta.Dengan nama samaran “Z”, Zainuddin kemudian berhasil menjadi pengarang yang amat disukai pembacanya. la mendirikan perkumpulan tonil “Andalas”, dan kehidupannya telah berubah menjadi orang terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di Surabaya dengan mendirikan penerbitan buku-buku.
Karena pekeriaan Aziz dipindahkan ke Surabaya, Hajati pun mengikuti suaminya. Suatu kali, Hajati mendapat sebuah undangan dari perkumpulan sandiwara yang dipimpin dan disutradarai oleh Tuan Shabir atau “Z”. Karena ajakan Hajati Aziz bersedia menonton pertunjukkan itu. Di akhir pertunjukan baru mereka ketahui bahwa Tuan Shabir atau “Z”adalah Zainuddin.
Hubungan mereka tetap baik, juga hubungan Zainuddin dengan Aziz. Perkembangan selanjutnya Aziz dipecat dari tempatnya bekerja karena hutang yang menumpuk dan harus meninggalkan rumah sewanya karena sudah tiga bulan tidak membayar, bahkan barang-barangnya disita untuk melunasi hutang. Selama Aziz di Surabaya, ia telah menunjukkan sifat-sifatnya yang tidak baik. la sering keluar malam bersama perempuan jalang, berjudi, mabuk-mabukan, serta tak lagi menaruh cinta pada Hajati. Akibatnya, setelah mereka tidak berumah lagi. Mereka terpaksa menumpang di rumah Zainuddin.
 Di Surabaya inilah Zainudin bertemu dengan Hayati yang diantar oleh suaminya sendiri Azis, untuk dititipkan kepadanya, kemudian Azis mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Rasa cinta Zainudin pada Hayati sebenarnya masih membara, akan tetapi mengingat Hayati itu sudah bersuami, cinta yang masih menyala itu berusaha untuk dipadamkan, kemudian Hayati dibiayai untuk pulang ke Batipun.Tetapi nasib malang menimpa Hayati, dalam perjalanan pulang ke Batipun itu, kapal Van Der Wijck yang ditumpanginya tenggelam. Hayati meninggal dunia di rumah sakit di Cirebon. Di saat-saat akhir hayatnya, Hayati masih sempat mendengar dan melihat bahwa sebenarnya Zainudin masih sangat mencintainya, namun semua itu sudah terlambat. Tidak berselang lama, Zainudin menyusul Hayati ke alam baka, dan jenazah Zainudin dimakamkan persis di samping makan mantan kekasihnya, Hayati.

2.3 Unsur- unsur Intrinsik Novel
Analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendiskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan.
Analisis strukturalnya sebagai berikut:
  2.3.1 Tema
Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka ini tentang kasih tak sampai. Sangat kental dengan budaya Minang yang sangat patuh akan peraturan adat.
Adapula penggalan ceritanya:
“…….apa yang dikerjakannya, padahal cinta adalah sebagai kemudi dari bahtera kehidupan. Sekarang kemudi itu dicabut, kemana dia hendak berlabuh, teroleng terhempas kian kemari, daratan tak nampak, pulau kelihatan. Demikianlah nasib anak muda yang maksudnya tiada sampai (1986:123).

2.3.2  Alur/plot
Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan alur maju mundur, karena menceritakan hal-hal yang sudah lampau atau masa lalu dan kembali lagi membahas hal yang nyata atau kembali ke cerita baru dan berlanjut. Ada lima tingkatan alur yakni :
2.3.2.1 Penyituasian
Tahap penyituasian, tahap yang terutama berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita, memberikan informasi awal dan lain-lain.
Berikut ini merupakan tahap awal dari roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka yang berkaitan dengan tahap penyituasaian.
“Di tepi pantai, di antara kampong Bara dan kampung Mariso berdiri sebuah rumah bentuk Makasar, yang salah satu jendelanya menghadap ke laut. Di sanalah seorang anak muda yang berusia kira-kira 19 tahun duduk termenung seorang diri menghadapkan mukanya ke laut. Meskipun matanya terpentang lebar, meskipun begitu asyik dia memperhatikan keindahan alam di lautan Makasar, rupanya pikiranya telah melayang jauh sekali, ke balik yang tak tampak di mata, dari lautan dunia pindah ke lautan khayal (1986:10).
2.3.2.2  Konflik
Tahap pemunculan konflik, masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Jadi tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik, dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik, dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya.
Kejadian dan konflik yang dialami tokoh Hayati dan Zainuddin dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka bisa dilihat dari penggalan cerita berikut ini:
“Sesungguhnya persahabatan yang rapat dan jujur diantara kedua orang muda itu, kian lama kian tersiarkan dalam dudun kecil itu. Di dusen belumlah orang dapat memendang kejadian ini dengan penyelidikan yang seksama dan adil. Orang belum kenal percintaan suci yang terdengar sekarang, yang pindah dari mulut ke mulut, ialah bahwa Hayati, kemenakan Dt……..telah ber “intaian” bermain mata, berkirim-kirim surat dengan anak orang Makasar itu. Gunjing, bisik dan desus perkataan yang tak berujung pangkal, pun ratalah dan pindah dari satu mulut ke mulut yang lain, jadi pembicaran dalam kalangan anak muda-muda yang duduk di pelatar lepau petang hari. Hingga akhirnya telah menjadi rahasia umum.
Orang-orang perempuan berbisik-bisik di pancuran tempat mandi, kelak bila kelihatan Hayati mandi di sana, mereka pun berbisik dan mendaham, sambil melihat kepadanya dengan sudut mata.Anak-anak muda yang masih belum kawin dalam kampung sangat naik darah.Bagi mereka adalah perbuatan demikian merendahkan derajat mereka seakan -akan kampung tak berpenjaga.yang terutama sekali yang dihinakan orang adalah persukuan Hayati, terutama mamaknya sendiri Dt…yang dikatakan buta saja matanya melihat kemenakannya membuat malu, melangkahi kepala ninik –mamak. (1986:57)
2.3.2.3 Tahap Peningkatan Konflik
Konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya. Tahap peningkatan konflik dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka terjadi ketika Zainuddin dan Aziz sama-sama mengirimkan surat kepada orang tua Hayati, dari lamaran kedua pemuda itu, ternyata lamaran Aziz yang diterima karena orang tua Hayati mengetahui latar belakang pemuda yang kaya raya itu, sedangkan lamaran Zainudin ditolak karena orang tua Hayati tidak ingin anaknya bersuamikan orang miskin. Hal ini bisa terlihat dari penggalan cerita berikut ini:
”Kalam dia tertolak lantaran dia tidak ber-uang maka ada tersedia uang Rp.3000,- yang dapat dipergunakan untuk menghadapi gelombang kehidupan sebagai seorang mahluk yang tawakkal.” (1986:118)
2.3.2.4  Klimaks
Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh (tokoh utama) yang berperan sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik utama. Dalam Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, tahap klimaks terjadi ketika Aziz meminta supaya Zainuddin menikahi Hayati. Sekalipun dalam hati Zainuddin masih mencintai Hayati, Zainuddin menolak permintaan Aziz. Bahkan Zainuddin memulamgkan Hayati ke kampung halamannya dengan menggunakan Kapal Van Der Wijck. Hal ini bisa dilihat pada pernyataan berikut:
“Bila terjadi akan itu, terus dia berkata: “Tidak Hayati ! kau mesti pulang kembali ke Padang! Biarkan saya dalam keadaan begini. Pulanglah ke Minangkabau! Janganlah hendak ditumpang hidup saya , orang tak tentu asal ….Negeri Minangkabau beradat !.....Besok hari senin, ada Kapal berangkat dari Surabaya ke Tanjung Periuk, akan terus ke Padang! Kau boleh menumpang dengan kapal itu, ke kampungmu”. (1986:19
)
2.3.2.5 Penyelesaian
Tahap penyelasaian dalam Roman Tenggelamya Kapal Van Der Wijck karya Hamka ketika Zainuddin mendapat kabar bahwa Kapal yang ditumpangi Hayati tenggelam, sedangkan Hayati dirawat di Rumah Sakit Tuban. Dengan diterima Muluk sahabatnya Zainuddin menengok wanita yang sangat dicintainya itu. Rupanya pertemuan mereka itu adalah pertemuan yang terakhir karena Hayati menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam pelukan Zainuddin. Kejadian itu membuat Zainuddin merasakan penyesalan yang berkepanjangan hingga Zainuddin jatuh sakit dan meninggal dunia. Zainuddin dimakamkan di sebelah makam Hayati.
2.3.3 Penokohan/ Perwatakan
Pada roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka terdapat beberapa karakter di antaranya:
                        2.3.3.1 Karakter utama (mayor karakter, protagonis) adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang palaing banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh karakter utama yang ada dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka adalah tokoh Zainuddin, yang memiliki sopan santun dan kebaikan pada semua orang. Sedangkan yang lainnya yang menjadi tokoh protagonisnya adalah tokoh Hayati yang menjadi kekasih Zainuddin.
Penggalan cerita yang menunjukkan Zainuddin adalah karakter yang baik adalah:
“Zainuddin seorang yang terdidik lemah lembut, didikan ahli seni, ahli sya’ir, yang lebih suka mengalah untuk kepentingan orang lain”. (1986 : 27)
            2.3.3.2 Karakter pendukung (minor karakter, antagonis) sosok tokoh antagonis dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka adalah tokoh Aziz, karena tokoh Aziz di sini mempunyai sikap yang kasar dan sering menyakiti istrinya, dan tidak mempunyai tanggung jawab dalam keluarga dan selalu berbuat kejahatan karena sering main judi dan main perempuan.
“…..ketika akan meninggalakan rumah itu masih sempat juga Aziz menikamkan kata-kata yang tajam ke sudut hati Hayati…..sial”. (181:1986)
            2.3.3.3 Karakter pelengkap adalah Muluk dan Mak Base karena keduanya adalah sosok yang bijak dan selalu berada di samping tokoh utama untuk memberi nasehat dan sangat setia menemani tokoh utama sampai akhir cerita
2.3.4  Setting/latar
Latar dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka berlatar di:
2.3.4.1 Mengkasar     : “Di waktu senja demikian, kota Mengkasar kelihatan hidup  (hal. 3)”
                        2.3.4.2 Padang Panjang:” Bilamana Zainuddin sampai ke Padang Panjang , negeri yang ditujunya, telah di teruskannya ke dusun Batipuh karena menurut keterangan orang setempat, di sanalah negeri ayahnya yang asli (hal. 20)”
                        2.3.4.3 Surabaya        : “ Diberanda subuah rumah makan yang ramai dalam kota Surabaya, sehabis waktu magrib duduklah Zainuddin seorang dirinya (hal. 174)”

2.3.5 Sudut Pandang
Pada roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan sudut pandang orang ketiga tunggal karena menyebutkan dan menceritakan secara langsung karakter pelakunya secara gamblang. Penggalan cerita pada roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka sebagai berikut :
“Mula-mula datang, sangatlah gembira hati Zainuddin telah sampai ke negeri yang selama ini jadi kenang-kenagannya.”(1986 :26)

2.3.6. Gaya Bahasa
Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan kalimat yang sangat kompleks karena menggunakan bahasa melayu yang baku. Seperti dalam penggalan cerita berikut ini:
“Lepaskan Mak, jangan bermenung juga,” bagaimana Mamak tidak akan bermenung, bagaimana hati mamak tidak akan berat………..” (1986 :22)




2.3.7. Amanat
Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka mengandung nilai moral yang tinggi ini terlihat dari para tokoh yang ada seperti Zainuddin. Hal tersebut bisa kita lihat dari panggilan cerita berikut ini :
“Demikian penghabisan kehidupan orang besar itu. Seorang di antara Pembina yang menegakkan batu pertama dari kemuliaan bangsanya; yang hidup didesak dan dilamun oleh cinta. Dan sampai matipun dalam penuh cinta. Tetapi sungguhpun dia meninggal namun riwayat tanah air tidaklah akan dapat melupakan namanya dan tidaklah akan sanggup menghilangkan jasanya. Karena demikian nasib tiap-tiap orang yang bercita-cita tinggi kesenangannya buat orang lain. Buat dirinya sendiri tidak”. (1986:223)

2.4 Biografi Pengarang
HAMKA adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Beliau lahir di Molek, Meninjau, Sumatra Barat, Indonesia pada tanggal 17 Februari 1908. Ayah beliau bernama Syeh Abdul Karim bin Amrullah (Haji Rasul).
Ketika Hamka berumur 10 tahun ayahnya membangun Thawalib Sumatra di Padang Panjang. Di sana Hamka belajar tentang ilmu agama dan bahasa Arab. Di samping belajar ilmu agama pada ayahnya, Hamka juga belajar pada beberapa ahli Islam yang terkenal seperti: Syeh Ibrahim Musa, Syeh Ahmad Rasyid, Sutan Mansyur dan Ki Bagus Hadikusumo.
Pada tahun 1927 Hamka menjadi guru agama di Perkebunan Tinggi Medan dan Padang Panjang tahun 1929. tahun 1957-1958 Hamka sebagai dosen di Universitas Islam Jakarta dan Universitas Muhamadiyah Padang Panjang.
Hamka tertarik pada beberapa ilmu pengetahuan seperti: sastra, sejarah, sosiologi, dan politik. Pada tahun 1928 Hamka menjadi ketua Muhammadiyah di Padang Panjang. Tahun 1929 beliau membangun “Pusat Latihan Pendakwah Muhammadiyah” dua tahun kemudian menjadi ketua Muhammadiyah di Sumatra Barat dan Pada 26 juli 1957 beliau menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia.
Hamka sudah menulis beberapa buku seperti: Tafsir Al-Azhar (5 jilid) dan novel seperti; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di bawah Lindungan Ka’bah, Merantau Ke Deli, Di dalam Lembah Kehidupan dan sebagainya. Hamka memperoleh Doctor Honoris Causa dari Universitas Al- Azhar (1958), Doctor Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia (1974) dan pada 24 juli 1981 Hamka meninggal dunia.








BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
 Berdasarkan hasil analisis data tentang roman Tenggelamnya Kapal Van
 Der Wijck karya Hamka dapat disimpulkan sebagai berikut:
 1. Struktur roman terdiri dari tema, alur/plot, setting/latar, sudut pandang, karakter, gaya bahasa, dan amanat, di mana hubungan antar unsur dalam roman ini menunjukkan hubungan yang begitu padu sehinggga menghasilkan jalinan cerita yang sangat menarik.
2. Unsur religiusitas roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka mengandung aspek aqidah, syariah, dan akhlak yang tergambar dalam setiap perilaku tokoh yang dimainkan, di samping itu pengarang sendiri sebagai seorang agamawan yang begitu kental memasukkan unsur–unsur agama ke dalam roman ini
3.2 Saran
Hendaknya dalam menjalani hidup dan kisah percintaan tidak selalu terikat oleh adat yang sangat ketat, yang menyebabkan hubungan antara dua orang yang saling mengasihi terpisah oleh karena masalah adat. Dan bagi orang tua hendaknya tidak memaksakan kehendak terhadap anak- anaknya agar menuruti perintahnya untuk menjodohkan dia dengan pilihan orang tua tersebut. Karena anak juga dapat memilih jalan hidup yang menurut dia itu adalah hal yang terbaik sebagai pilihan hidupnya kelak.








.